Ini adalah beberapa artikel yang dimuat di Majalah SWA Sembada, Koran Tempo, Media Indonesia, Web SyariahMandiri, dan Majalah Infobanks, tentang satu orang Alumni TIN angkatan 27 IPB atau angkatan 11 TIN IPB. Namanya waktu kuliah, Muhammad Chotib, tapi sekarang di mass media terkenal malah dengan nama Chotib Muhammad.Â
BPRS Amal Salman Jadi BPR Syariah  JAKARTA --
Setelah 13 tahun beroperasi sebagai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional, BPR Amal Salman yang lebih dikenal dengan nama BPR Al Salaam-PNM dikonversi menjadi BPR Syariah. Keputusan konversi dilakukan menyusul rapat umum pemegang saham tahun 2004. Â ''Kami mengantongi izin prinsip Agustus 2005,'' kata Direktur Utama BPR Al Salaam-PNM, Chotib Muhammad, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/12). Sedangkan, izin operasional mungkin baru diterbitkan Bank Indonesia Maret 2006.Â
Bahwa baru sekarang Al Salaam dikonversi, Chotib mengatakan pelaksanaannya memang baru. ''Tapi niat kami sudah ada sejak pertama kali berdiri.'' Hanya saja ketika itu terkendala undang-undang, konversi, maupun regulasi dari bank sentral maka niat untuk beroperasi sesuai prinsip Islam tertunda. Untuk konversi ini, Al Salaam menggandeng mitra baru, PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Badan usaha milik negara itu menyuntikkan modal disetor Rp 1 miliar. Ada lagi komitmen lain dari PNM yang nilainya sekitar Rp 5-7 miliar. Hanya saja pencairannya menunggu respons nasabah deposito. Selain itu, menggandeng PNM tidak saja memperkuat modal bank tapi juga peningkatan SDM, teknologi informasi, dan manajemen. Â
Chotib mengatakan konversi bukan tanpa risiko sama sekali. Selama ini, Al Salaam memiliki sekitar 400 nasabah deposan. Tapi dari jumlah itu, segelintir orang memiliki dana sekitar Rp 15 miliar. ''Kami menyebutnya Kelompok C.'' Jika dana dari Kelompok C ditarik, dana dari PNM dan bank akan masuk supaya tidak terjadi masalah. Â Proses konversi menurut Chotib berlangsung sejak 2004. BPR Al Salaam terus melakukan sosialisasi kepada nasabah termasuk mengumpulkan seluruh nasabah deposan untuk dimintai sikapnya terhadap konversi. ''Jika ada yang keluar, kami sudah siap. Ada yang bersedia menempatkan dana supaya likuiditas kami terjaga.''Â
BPR Al Salaam hingga November 2005 memiliki aset Rp 63 miliar. Sementara pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp 53 miliar untuk sekitar 6.000 nasabah. Laba hingga November 2005 mencapai Rp 1,8 miliar. Dengan masuknya PNM, modal Al Salaam mencapai Rp 6,29 miliar atau dengan rasio kecukupan modal (CAR) 13,62 persen. Chotib mengatakan selama setahun ke depan, Al Salaam akan fokus pada penyelesaian konversi. Karena itu, ia hanya berani memperkirakan pertumbuhan kredit dan aset sekitar 10 persen saja. Untuk pembiayaan yang ada saat ini menurut dia sudah 80 persen dikonversi. ''Alhamdulillah tak ada masalah.'' Bank yang berpusat di Cinere ini telah memiliki empat kantor kas dan total karyawan 64 orang. Kantor kasnya berlokasi di Citayam, Bojong, Sukmajaya Depok, dan di Cimanggis. (tid )
Tanggal: 19 Dec 2006 Sumber: InfoBankNews.com Â
LINKAGE PROGRAM BANK UMUM-BPR BPR WADAH BANK UMUM MELEMPAR KREDITÂ Â
BANK perkreditan rakyat (BPR) memang pantas diacungi jempol. Di tengah panasnya kancah persaingan industri perbankan nasional, BPR tetap tenang melangkah. Bahkan, perkembangannya makin pesat, meski beberapa BPR memang bergelimpangan. Padahal, bank umum kini sudah merambah pasar BPR dan berdiri di hadapan BPR laksana Goliath menghadapi David. Â Secara umum, kinerja BPR selama 2006 terlihat kinclong.
Data BI menyebutkan, per Juni 2006, aset BPR tumbuh hingga 13,75% dari Rp18,41 triliun (2005) menjadi Rp20,94 triliun. Dana pihak ketiga (DPK)-nya meningkat dari Rp12,23 triliun (2005) menjadi Rp14,45 triliun atau tumbuh sekitar 18,08%. Kredit yang disalurkan BPR pun bertambah dari Rp13,80 triliun (2005) menjadi Rp16,15 triliun. Bahkan, dengan adanya linkage program, BPR makin bisa menyalurkan kreditnya ke masyarakat. Dibandingkan dengan tahun lalu, penyaluran kredit BPR saat ini lebih bagus. Tak heran jika loan to deposit ratio (LDR) BPR mencapai 88,32%. Â
Linkage program diharapkan bisa menjadi sinergi berkesinambungan antara bank umum dan BPR untuk menggerakkan sektor riil. ?Kami harapkan, program linkage dapat lebih meningkatkan peran BPR dan BPRS dalam membantu sektor usaha mikro dan kecil di daerah,? ujar Chotib Muhammad, Direktur Utama BPRS Al Salaam Cinere.  Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta dan sekitarnya, Hiras Lumban Tobing, mengatakan, BPR punya peran strategis dalam memberikan akses kepada UMKM dan menjembatani bank-bank yang masih kesulitan menyalurkan kredit ke sektor tersebut akibat keterbatasan SDM di lapangan.  ?Apalagi, bank umum kurang memiliki kedekatan sosial dengan nasabah mikro dan kecil. Dan, itu hanya bisa ditangani BPR,? tambahnya. Â
Dengan banyaknya bank umum yang terlibat di dalam linkage program, kini BPR tak lagi mengalami kesulitan dalam mengakses sumber dana untuk pembiayaan. Dedi Kurniadi, Direktur Utama BPR Aslindo Mitra, Depok, berharap, bank umum yang melakukan kerja sama linkage program dengan BPR tidak mengambil alih pembiayaan nasabah BPR yang sedang dibiayai melalui linkage program atau masih menjadi nasabah BPR.  ?Tetapi, bagi nasabah BPR yang telah naik kelas dari debitor mikro menjadi debitor kecil serta memerlukan kredit yang lebih besar dan BPR tidak mampu membiayai, maka bank umum dapat membiayai nasabah BPR tersebut secara langsung,? sergah Chotib. Â
Chotib menambahkan, kalangan BPR dan BPRS optimistis, pada masa mendatang, bisnis BPR dan BPRS masih sangat prospektif. Apalagi, BPR dan juga BPRS sudah ikut dalam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). BPR kini mendapat pengakuan yang sama dengan bank umum sesuai dengan Undang-Undang (UU) Perbankan. Di sisi lain, Dirut BPR Al Salaam Chotib Muhammad optimistis BPRS mampu bersaing dengan bank konvensional dalammenjaring kredit karena menerapkan sistem bagi hasil yang berbeda dengan sistem bunga yang ditawarkan bank konvensional. "BPRS memprediksikan pertumbuhan kredit dapat mencapai 107" untuk 2006," tegasnya dalam konfrensi pers yang digelar di Jakarta, kemarin. BPR Al Salaam didirikan pada 1992 dengan modal Rp60 juta dan kini telah memiliki aset Rp 53 miliar. Pada 2004 kredit yang disalurkan mencapai Rp36 miliar, naik tajam dari tahun sebelumnya Rp23 miliar. "Mulai Maret 2006 kita akan menjadi bank syariah. Itu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan," katanya. (Ndy) (Media Indonesia)