


| No events |
No posts to display.
warta ekonomi
ÂBagi Totok Amin Soefijanto, penerimaan mahasiswa baru secara online bukanlah sesuatu yang mustahil dilaksanakan di Indonesia. Malah menurut Doktor di University School of Education, Boston, AS, dengan tesis "College Professors' Perceptions on Mobile Computing: A Postmodernism Professionalism Perspective" ini idealnya pendaftaran secara online bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja asal si calon mahasiswa sendiri siap. "Kendala kita adalah akses ke internet. Kita belum memiliki cukup banyak fasilitas komputer yang tersambung online sampai ke pelosok daerah," kata peraih S2 dalam bidang Educational Media and Technology ini.
Berikut penuturan lebih jauh Totok kepada Andy Zoeltom dan Faizah Rozy dari Suplement E-government Warta Ekonomi.
Apakah terobosan PSB Online di Malang dan DKI Jakarta bisa membuat penerimaan siswa di SMA bisa berlangsung transparan?
Salah satu kelebihan pendaftaran atau transaksi apapun lewat internet adalah kedisiplinan dan logika mesin. Kita tidak bisa melengkapi prosesnya kalau tidak memenuhi prosedur yang sudah ditetapkan oleh pemrogram komputer. Nah, si pemrogram tentunya berpegang pada aturan yang sudah ditetapkan pemesan program. Efek selanjutnya adalah pemberian peluang yang sama kepada siapa pun yang berpartisipasi (level playing fields). Kalau si A dapat proses X di prosedur pendaftaran, maka si B, si C, dan seterusnya juga mendapatkan proses X waktu mendaftar. Dari pengalaman Dinas Pendidikan Kota Malang, nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) diumumkan dari yang tertinggi sampai terendah. Masyarakat atau orangtua bisa protes kalau si A yang nilai seleksi UAN-nya 29.22 tidak diterima, tetapi si B yang nilainya 27.93 diterima. Ini kan sangat demokratis.
ÂSelain itu?
ÂKita juga mendapatkan nilai keterbukaan (transparansi) dalam proses seleksi semacam ini.
ÂApakah terobosan ini juga bisa dilakukan untuk penerimaan mahasiswa baru?
ÂPendaftaran lewat internet adalah penerapan yang relatif paling mudah. Jadi mau dipakai untuk tingkat perguruan tinggi juga tak masalah. Calon mahasiswa bisa mendaftar dan membayar online, kemudian mencetak kartu pendaftaran untuk dibawa ke tempat ujian. Proses ujian tidak boleh dilakukan secara online, kalau tidak ada mekanisme pengawasan dan verifikasi status peserta ujian secara baik. Kecuali kalau peserta ujian masuk ke ruang komputer, dan peserta ujian duduk rapi di depan komputer masing-masing, identitasnya dicocokkan, dan selama ujian diawasi.
ÂDi AS sendiri prosesnya bagaimana?
ÂDi sana tidak ada ujian penerimaan mahasiswa baru secara nasional. Tetapi, calon mahasiswa harus mengambil tes SAT yang diadakan oleh lembaga swasta Educational Testing Service (ETS) di depan komputer, di ruangan khusus, diawasi, untuk jangka waktu tertentu. ETS juga yang menyelenggarakan tes TOEFL, GMAT, dan GRE. Tidak harus ramai-ramai, yang penting setelah dapat nilai SAT, si calon mahasiswa bisa mendaftar ke universitas pilihannya. Nah, nilai SAT itu ikut menentukan diterima tidaknya dia, ditambah dengan materi seleksi lainnya, seperti aktivitas sosial semasa SMA, prestasi akademis dan non-akademis, bakat kepemimpinan, esai (calon mahasiswa harus menulis mengapa ingin kuliah di universitas tersebut), dan kadang-kadang status orang tua.
ÂDi Universitas Harvard, hampir semua pelamarnya valedictorian (ranking nomor satu di SMA) dan nilai SAT tinggi, tetapi yang menentukan adalah materi seleksi yang lain, terutama esai, bakat kepemimpinan, dan aktivitas sosial. Universitas yang ada di Indonesia sudah harus mulai memikirkan faktor-faktor selain nilai tes masuk, supaya mendapatkan mahasiswa yang berwawasan luas dan siap memajukan masyarakat sekitarnya.
ÂKalau penerimaan mahasiswa baru secara online dilakukan, kira-kira idealnya seperti apa?
ÂDi AS, calon mahasiswa bisa mendapatkan formulir secara online lalu dicetak sendiri, atau memintanya lewat e-mail dan universitas yang bersangkutan akan mengirimkan paket formulir pendaftaran lewat pos. Ada universitas yang menerima pendaftaran secara online, di mana si calon mahasiswa mengisi formulir di situs web, kemudian tekan tombol 'submit' (kirim). Tetapi, kebanyakan universitas di AS masih meminta calon mahasiswa untuk mengisinya secara manual dan mengirimkannya lewat pos.
ÂSetelah si calon mahasiswa resmi tercatat sebagai mahasiswa, dia bisa memilih dan mendaftar mata kuliah secara online, atau mengikuti mata kuliah yang diajarkan secara online. Calon mahasiswa/mahasiswa juga bisa mengecek nilai, membayar uang kuliah, dan mendapatkan salinan transkrip secara online.
ÂJadi, idealnya universitas di Tanah Air menyediakan fasilitas pendaftaran secara online, dan bekerja sama menciptakan sistem tes semacam SAT yang berlaku secara nasional, tetapi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja asal si calon mahasiswa sendiri siap.
ÂKira-kira apa saja yang harus dipersiapkan bila hal ini dilakukan?
ÂPara rektor harus bekerja sama membicarakan kemungkinan mendirikan lembaga semacam ETS di AS. Tidak harus persis sama, tetapi manfaat dan fungsinya yang ditiru. Calon mahasiswa bisa mengambil ujian kapan saja dan di mana saja sepanjang ada ruang komputer dan pengawas. Pihak universitas kemudian menetapkan kriteria penerimaan mahasiswa baru yang lebih komprehensif, tidak hanya nilai tes, tetapi juga bakat-bakat si calon mahasiswa dan kepeduliannya terhadap kondisi masyarakat sekitarnya.
ÂBagaimana dengan tiap universitas yang menetapkan kriteria sendiri?
ÂTidak masalah. Misalnya, IPB mencari bakat ahli pertanian, ITB mencari bakat ahli teknik, dan UI mencari bakat ekonom. Selanjutnya, setiap universitas mengembangkan sistem teknologi informasi (TI) di kampus untuk keperluan administrasi mata kuliah, penyusunan enaga pengajar, jadwal praktek di laboratorium, perpustakaan, pembayaran uang kuliah, dan sistem penggajian para pegawai, dosen, atau mahasiswa yang menjadi asisten dosen.
ÂApa kendalanya bila pendaftaran mahasiswa baru diberlakukan secara online?
ÂKendalanya adalah akses ke internet. Kita belum memiliki cukup banyak fasilitas komputer yang tersambung online sampai ke pelosok daerah. Selain itu, administrasi banyak universitas masih manual, belum benar-benar terintegrasi ke dalam sistem yang online penuh.
ÂSejauh mana pihak Departemen Pendidikan Nasional bisa turut andil dalam terobosan ini?
ÂDalam soal pemanfaatan TI, Depdiknas jangan mengambil kebijakan yang seragam. Kalau sekolah di Malang dan Jakarta sudah siap melakukan pendaftaran lewat internet, bukan berarti sekolah di Mataram atau Pematangsiantar juga siap melakukan hal yang sama. Di sinilah fungsi Depdiknas sebagai lembaga yang menetapkan standar mutu pendidikan secara garis besar dan menyerahkan sebagian kebijakan kurikulum dan anggaran ke daerah. Dalam hal penggunaan TI, Depdiknas bisa menunjukkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan, mencegah penyimpangan dan menutup peluang KKN dalam hal penerimaan murid baru. Terus terang, saya tidak melihat fungsi Depdiknas yang lebih jauh dari penetapan standar dan pengawasan mutu pendidikan nasional. Saya kira itulah yang dimaksud dengan "tut wuri handayani" yang menjadi simbol departemen ini.
ÂUntuk menunjang aktivitas belajar di kampus, sejauh mana TI harus diberlakukan?
ÂUniversitas adalah tempat yang penting untuk melatih anak-anak muda berfikir kritis dan kreatif, sambil membiasakan diri menjalankan nilai-nilai etika dan moral yang benar yang berlaku universal. Nah, TI bisa diterapkan dari mulai proses mencari mata kuliah yang wajib dan pilihan, lalu mendaftar secara online. Selain itu di setiap kuliah, dosen sebaiknya memberi contoh kasus yang nyata di luar kampus. Idealnya setiap kelas mempunyai layar LCD, komputer, dan sambungan internet sehingga dosen bisa langsung menyajikannya di depan kelas.
Dosen juga mesti mendorong mahasiswanya untuk selalu memperhatikan relevansi pelajaran dengan kejadian di masyarakat, di dalam dan luar negeri. TI, khususnya internet, bisa membantu proses belajar semacam ini karena memang jangkauannya bersifat global. Mahasiswa bisa belajar menulis e-mail dengan benar, syukur kalau bisa memoles bahasa asingnya agar lebih baik.
Totok Amin Soefijanto (Pengamat Pendidikan ? Alumni TIN IPB)