


| No events |
No posts to display.
Pengantar :
ÂBeliau,...di milis selalu memantau, namun jarang komentar, kesimpulan sementara sih, melihat banyaknya tulisan dan opini beliau di Warta Ekonomi, SWA Sembada, Marketing, Republika, Kompas, dan beberapa lainnya, tentu saja komentar beliau cukup mahal adanya...
ÂNamun tentu ini kesimpulan yang salah,...yang benar adalah, beliau, di suatu saat, suatu hari, suatu kesempatan,..di milis menyatakan bersedia meluangkan waktu untuk memberikan tutorial atau semacamnya bagi mahasiswa TIN-IPB.
Â
Pak Simon Jonathan, angkatan 18 IPB, dan angkatan 02 TIN-IPB, adalah CEO Brandmaker, konsultan Pemasaran. Sebelumnya beliau dikenal sebagai inisiator dan inspirator boom penjualan dari Joshua,..bukan, yang betul adalah Extra Joss...dari Bintang Toedjoe.
ÂBerikut adalah salah dua dari ratusan tulisan beliau di media massa...
 .
Kreatif atau Inovator?
19 Juli 2005 - warta ekonomi
Oleh: Simon Jonathan
ÂKreativitas dengan inovasi itu berbeda. Kreativitas merupakan pikiran untuk menciptakan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi adalah melakukan sesuatu yang baru. Hubungan keduanya jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas. Dengan kata lain, kreativitas bisa merupakan variabel bebas, sedangkan inovasi adalah variabel tak bebas.
ÂDalam praktek bisnis sehari-hari, ada perencanaan yang meliputi strategi, taktik, dan eksekusi. Dalam pitching konsultansi atau agency, sering terdengar keluhan bahwa secara konseptual apa yang disodorkan agency bagus, tetapi strategi itu tak berdampak pada perusahaan karena mandek di tingkat eksekusi. Mengapa? Sebab, strategi bisa ditentukan oleh seseorang, tetapi eksekusinya harus melibatkan banyak orang, mulai dari atasan hingga bawahan. Di sinilah mulai ada gesekan antarkaryawan, beda persepsi hingga ke sikap penentangan.Â
ÂItu sebabnya, tak ada perusahaan yang mampu berinovasi secara konsisten tanpa dukungan karyawan yang bisa memenuhi tuntutan persaingan. Hasil pengamatan kami menunjukkan, perusahaan-perusahaan inovator sangat memperhatikan masalah pelatihan karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi. Benih-benih inovasi akan tumbuh baik pada perusahaan-perusahaan yang selalu menstimulasi karyawan, dan mendorong ke arah ide-ide bagus. Melalui program pelatihan, sistem reward, dan komunikasi, perusahaan terus berusaha untuk mendemokratisasikan inovasi.       Â
ÂDalam pasar bebas, inovasi merupakan salah satu keunggulan bersaing. Banyak perusahaan yang profitabilitasnya di-drive oleh inovasi produk. Garudafood, misalnya, meski pendapatan terbesarnya dari kacang, juga memunculkan produk-produk baru, seperti Okky Jelly Drink. Begitu juga Dua Tang dengan Frutang-nya, Bintang Toedjoe dengan Extra Joss, Komix, dan sebagainya.
ÂDi sini inovasi tak selalu mengacu kepada sesuatu yang baru sama sekali. Okky Jelly Drink, misalnya, merupakan turunan dari Frutang dengan menambahkan jelly ke dalamnya. Sementara Frutang adalah turunan dari sirup Orson, yang diencerkan dan dikemas dalam gelas plastik ukuran kecil. Ini jamak dilakukan, bahkan oleh perusahaan multinasional sekalipun. Pampers dari P&G, misalnya, bukan murni temuan P&G, melainkan hasil konsolidasi Chux, produk tahun 1932, dan Chicopee Mills, salah satu unit bisnis Johnson & Johnson. Â
ÂIbarat tanaman, untuk setiap seribuan bunga pasti terdapat jutaan gulma. Jadi, sebelum menghasilkan, akan banyak gangguan dan rintangan. Maka, sebenarnya by nature inovasi itu membuang-buang waktu. Ia memerlukan eksperimen, investasi yang sangat spekulatif, dan kegagalan. Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan belanja inovasi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan penjualan, pangsa pasar, atau profitabilitas.
ÂDi perusahaan-perusahaan global juga terjadi fenomena seperti itu. Pada 1995, Polaroid terus mengucurkan dananya untuk riset dan pengembangan, namun tetap gagal keluar dari tuntutan kebangkrutan. Maytag, yang mulai meningkatkan anggaran R&D-nya pada 2001, sampai 2003 penjualannya tetap menurun. Hasil studi terhadap 30 perusahaan yang masuk dalam Global 500 menunjukkan, tidak ada korelasi antara peningkatan biaya R&D dan perbaikan profitabilitas.Â
ÂPada 1999 PT Unilever Indonesia mendapati bahwa dari 1.600 merek yang mereka pasarkan, hanya 50 atau sekitar 3% yang menyumbang pada 63% pendapatannya. Itu menunjukkan bahwa banyak merek yang ditangani Unilever belum memberikan kontribusi sesuai harapan. Bahkan beberapa merek yang diluncurkan Unilever, seperti Mie and Me dan Tara Nasiku, bubar di tengah jalan.
ÂKegagalan suatu produk bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena waktunya tidak tepat. Kedua, cara masuknya tidak tepat. Dan ketiga, produknya tidak tepat. Banyak merek yang besar karena adanya peluang dan kesempatan. Artinya, mereka masuk ke pasar pada saat dan dengan cara yang tepat. Pocari Sweat besar setelah merebaknya kasus demam berdarah. Koran Bisnis Indonesia menjadi besar saat pasar modal mulai marak. Namun, untuk menjadi unggul, merek-merek tadi harus memiliki banyak amunisi. Satu gebrakan tak akan menggigit.
ÂAgar menjadi trend driver, suatu perusahaan memerlukan kemampuan untuk mengubah keunggulan tadi menjadi sesuatu yang sustainable, dengan secara aktif mengelola persepsi konsumen, dengan terus-menerus masuk ke new category atau sub category, dan menjadi dominan di arena baru. Ini tak hanya membutuhkan sumber daya dan pengakuan, tetapi juga kompetensi dalam membangun suatu brand.    Â
ÂInovator, sebagai individu, juga mempunyai karakter yang sama. Dia bisa besar karena peluang dan kesempatan. Itu sebabnya banyak inovator yang sukses di suatu perusahaan, tetapi ketika pindah ke perusahaan lain prestasinya tak seperti di perusahaan lama. Ambil contoh Alex Kumara. Hampir semua pebisnis tahu peran dia saat membesarkan RCTI dan TransTV. Namun, ketika masuk ke TVRI sejak setahun lalu, sampai kini belum terdengar perubahan yang terjadi di stasiun TV itu.
ÂBegitu juga Surja Handoko. Tangan dinginnya berhasil mengangkat kembali A Mild yang penjualannya sempat turun. Prestasinya melejit hingga diangkat menjadi direktur pemasaran Sampoerna. Namun, ketika dia berusaha memoles merek-merek Bentoel, karyanya tak secemerlang ketika di A Mild. Baru dua tahun Surja berkiprah, ia mengundurkan diri dari Bentoel.    Â
ÂMengapa para inovator pindah? Sulit menebak pikiran mereka. Bahkan saya juga ragu, apakah mereka jujur dalam mengungkapkan alasan kepindahannya. Berkaca pada teori Maslow, sulit mendapatkan jawabannya secara pas. Apa yang tidak mereka dapatkan dari perusahaan yang lama? Aktualisasi diri? Apakah di perusahaan lama mereka tidak mendapatkannya? Secara jujur, kalau Anda bertanya kepada saya mengapa keluar dari PT Bintang Toedjoe dan mendirikan Brandmaker, Anda pun jangan berharap mendapatkan jawaban yang jujur dari saya. Sebab, apa pun jawaban saya, persepsi Anda mengatakan: klise!
Â(Penulis adalah CEO Brandmaker)
 ÂFenomena Perkembangan Merek
Simon Jonathan
CEO Brandmaker
ÂPada tahun 2004 ini, secara umum, perkembangan merek-merek produk di Indonesia relatif cukup baik dan terlihat dinamis, baik untuk merek lokal maupun merek internasional. Selain itu, tingkat persaingan di berbagai kategori produk sangat tinggi, sehingga memunculkan beberapa fenomena yang cukup menarik di tahun ini. Fenomena pertama adalah bermunculannya merek-merek baru untuk kategori produk yang sudah ada. Fenomena lain yang terlihat adalah timbulnya merek-merek lama dengan varian baru (ekstensi merek), baik yang bertujuan untuk mengganjal pesaing saudara tuanya di berbagai kategori produk (fighting brand) maupun tidak. Fenomena ketiga adalah munculnya beberapa merek produk kategori baru.
ÂSalah satu contoh fenomena pertama yang cukup menarik adalah kasus Mie Sedaap. Pada awal diluncurkannya mie instan dari Grup Wings ini, tidak ada yang menyangka bisa mencuri market share dari rajanya mie instan, Indomie. Saat ini saja market share Mie Sedaap sudah mencapai angka 15%. Kemunculan Mie Sedaap ini rupanya cukup membuat Indomie kerepotan. Salah satu langkah yang terlihat dilakukan untuk menahan gempuran Mie Sedaap, Indomie membuat program promosi ?beli 5 bonus 1?. Sebenarnya ini bukanlah langkah yang baik untuk market leader. Langkah lain yang disusun kemudian adalah meluncurkan adik kandungnya, Supermi Sedaaap untuk menjepit Mie Sedaap. Pertempuran mana yang paling sedap pun semakin seru, coba tengok persaingan di above the line-nya, kalau Mie Sedaap menggunakan talent juri AFI, sementara itu Indomie menggunakan bintang AFI-nya.
ÂMunculnya Supermie Sedaap tadi merupakan salah satu contoh dari fenomena kedua, di mana merek lama dimunculkan dengan varian baru yang difungsikan sebagai fighting brand. Contoh lainnya adalah di kategori energy drink, misalnya, belum lama ini Extra Joss menggelontorkan Extra Joss LG yang warna dasar kemasannya sengaja dibuat merah untuk menghadang lajunya Hemaviton Jreng dan Kuku Bima Ener-G.
ÂKuku Bima Ener-G termasuk pendatang baru yang digembar-gemborkan cukup sukses di empat bulan peluncuran pertamanya (yang katanya sudah mendapatkan market share sebesar 10?15%). Begitu mudahkah merebut market share minuman berenergi yang pasarnya sudah cukup kusut? Belum lama ini Extra Joss juga mulai bergeser dari pakemnya dengan meluncurkan X energy drink bentuk cair dalam kemasan kaleng. Pemain besar lainnya yang ikut meluncurkan varian baru untuk segmen baru di kategori produk ini adalah Kratingdaeng dengan Low Sugar-nya.
ÂFenomena ketiga yang terlihat di tahun ini adalah munculnya beberapa merek produk di kategori produk baru, misalnya O2 yang memposisikan produknya sebagai minuman yang mengandung oksigen. Munculnya O2 ini karena sudah jenuhnya pasar AMDK. Selain itu, O2 juga keluar dengan harga yang premium. Di pasar susu, Milkuat memasuki kategori baru yaitu kategori susu dengan sari buah. Walaupun antara kategori produk dengan mereknya tidak terlalu in-line, tapi Danone cukup confidence dapat meraih pasar di kategori baru ini.
ÂJika dilihat secara menyeluruh, sebab dari timbulnya gejala fenomena di atas tadi adalah karena tingkat pesaingan yang tinggi dan pasar yang sudah jenuh. Hal ini mengakibatkan peperangan memperebutkan pasar menjadi semakin seru dan terbuka. Pihak yang paling diuntungkan dengan situasi ini tentunya konsumen. Mereka bisa memilih produk mana yang menurutnya baik untuknya.
ÂMaraknya penggunaan strategi umbrella brand oleh berbagai produk sebenarnya cukup baik dan banyak juga yang berhasil. Umbrella brand baik digunakan apabila merek yang akan dijadikan payungnya memiliki ekuitas yang tinggi, sehingga dapat mengangkat merek yang di bawahnya. Contoh sukses adalah Hemaviton. Merek ini sudah memiliki ekuitas merek yang tinggi di kategori kesehatan, sehingga apabila mengeluarkan produk lainnya yang menggunakan merek Hemaviton sepanjang dalam lingkup yang berhubungan dengan kesehatan akan diterima oleh konsumen.
ÂUmbrella brand digunakan oleh produsen kemungkinan juga dikarenakan sulitnya membangun merek baru. Membangun merek baru memang membutuhkan effort yang sangat luar biasa. Dari membangun awareness sampai konsumen membeli merek tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biasanya, pihak produsen yang menggunakan strategi umbrella brand melihat bahwa effort yang dikeluarkannya tidak terlalu luar biasa. Akan tetapi semua itu kembali tergantung dari ekuitas merek yang dijadikan payungnya. Strategi ini akan berdampak negatif apabila merek yang menjadi payung mempunyai masalah atau salah satu dari merek yang dipayunginya juga memiliki masalah.
ÂTren perkembangan merek baik lokal maupun internasional di tahun depan relatif tidak terlalu berbeda dengan tahun 2004 ini, karena situasi politik, keamanan dan ekonomi cenderung sudah cukup kondusif serta diprediksi tidak akan ada kejutan besar.
ÂSebenarnya membangun merek di tahun depan relatif masih cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya peluang pasar walaupun pasar tersebut sudah cukup crowded. Kendala utama yang kelihatan adalah tidak adanya event khusus yang mendukung strategi promosi (tidak adanya event olahraga, politik, dan lain-lain).
ÂStrategi yang paling mungkin dilakukan untuk menghadapi hal di atas adalah dengan melakukan strategi branding yang tepat, apakah mau masuk ke kategori baru atau menggunakan umbrella brand. Selain itu, perlu dipikirkan untuk melakukan above the line maupun below the line yang lebih kreatif dan tepat sasaran. (Majalah Marketing)
ÂSimon Jonathan bisa Anda hubungi melalui :
ÂBRANDMAKER INDONESIA
Jalan Kakap Raya 4
Rawamangun, Jakarta Timur
Phone: +62-21-47866132
Fax: +62-21-47860845